Dulu kalau sebut Sal Priadi, kita langsung ingat lirik-lirik puitis yang menusuk: “Aku takut jika cinta datang palsu” atau “Kau adalah takdirku.” Tapi di “Markers and Such Pens”, dia malah bikin kita kehilangan kata-kata. Bukan karena tak berdaya, tapi karena dia sengaja ngilanginnya. Album ini instrumental. Hampir semuanya. Dan itu bikin banyak pendengang sempat bingung: ini eksperimen yang brilian atau cuma sekadar side project yang terlalu artsy?

Menyelam ke Dunia Tanpa Kata-Kata

Pertama kali dengar opening track “Markers and Such Pens I”, aku langsung kagok. Bukan suara piano akustik yang biasa jadi tulang punggung lagu-lagu Sal. Tapi suara-suara tersampel: suara pena menggambar di kertas, suara marker yang squeaky, dentingan ringan seperti mainan anak-anak.

Di atasnya, piano datang tapi tidak untuk melodi. Piano datang untuk texture. Ini bukan album untuk didengerin sambil ngerjain tugas kantor. Ini album yang butuh ruang dan waktu khusus.

Ini bukan album untuk didengerin sambil ngerjain tugas kantor. Ini album yang butuh ruang dan waktu khusus.

Yang menarik, Sal nggak cuma main aman dengan ambient doang. Di “Piano Study No. 1 in A Minor”, dia nyerang kita dengan struktur yang terasa kayak contemporary classical—minimalis, tapi setiap nota ditempatkan dengan sengaja bikin ngeri.

Ada ketegangan di sana yang nggak pernah ada di lagu-lagu pop-nya. Kamu nggak akan nangis, tapi kamu akan merasa something is not quite right—dan itu sengaja.

Ketika Jazz, Ambient, dan Suara Pesta Kumpul Jadi Satu

Banyak yang bilang album ini terasa kayak soundtrack film yang belum dibuat. Bener banget. Tapi bukan film Hollywood. Lebih kayak film festival independen yang pacing-nya lambat tapi tiap frame dipikirin matang-matang.

Baca:  Review Album Tulus "Manusia" Setelah 2 Tahun: Apakah Masih Menjadi Masterpiece-Nya?

Di “The Little Girl Who Lives Down the Lane”, misalnya. Judulnya udah kayak referensi film cult. Musiknya? Piano jazz yang terdengar seperti direkam di ruang tamu—ada suara cawan, suara orang ngobrol samar, suara pintu.

Ini intimate banget, sampai kita merasa kayak pengintip yang nggak diundang. Kamu bisa dengerin ruangnya. Kamu bisa dengerin bowing string-nya yang pelan, yang terkadang squeak.

Yang paling bikin terkesima adalah “Markers and Such Pens II”. Di sini, dia ngelayer suara-suara itu jadi ritme. Bukan drum. Bukan perkusi. Tapi suara click pen, suara buka tutup marker, suara coret-coret di whiteboard.

Dijadikan groove. Ini brilian. Ini yang bikin kamu sadar: oh, ini bukan cuma gagasan konseptual doang. Ini dikerjakan dengan teknik. Ini bukan random.

Kekuatan yang Nggak Bisa Dibantah

Salah satu kekuatan terbesar album ini adalah kohesivitas tematik. Dari awal sampe akhir, kamu beneran dengerin satu kesatuan pikiran. Nggak ada track yang terasa filler. Semua punya fungsi.

Terus, produksinya—oh, produksinya. Dengerin aja “Study for Strings and Piano”. Dia nggak cuma rekam piano. Dia rekam room sound-nya. Kamu bisa dengerin ruangannya.

Produksi ini human banget. Nggak ada autotune, nggak ada quantizing yang kaku. Semua terasa hidup, terkadang canggung, dan itu justru jadi daya tarik.

  • Konseptual clarity: Ide utamanya jelas dan diexecute dengan konsisten.
  • Sound design: Penggunaan objek sehari-hari sebagai instrumen musik yang fungsional.
  • Dinamika emosional: Meski instrumental, kamu tetap bisa ngerasain perjalanan emosinya.

Tapi, Kenapa Bisa Terasa “Terlalu Aneh”?

Nah, ini dia masalahnya. Buat pendengar yang biasa sama Sal Priadi versi “Irama Cinta”, album ini bisa jadi shock yang nggak menyenangkan. Bukan karena musiknya buruk. Tapi karena ekspektasi.

Baca:  Kelemahan Album Baru Dua Lipa Yang Jarang Dibahas Kritikus Musik (Review Jujur)

Di beberapa track, ambient-nya terlalu dominan sampai bikin bosan. “Ambient Study No. 3” misalnya, berdurasi hampir tujuh menit dengan perubahan minimal. Kalau kamu nggak dalam mood yang tepat, ini terasa kayak dengerin suara pendingin ruangan yang artistik.

Terus, kurangnya struktur hook atau melodi yang memorable bikin album ini susah untuk “disukai” dalam artian tradisional. Kamu nggak akan nyanyi-nyanyi di kamar.

Kamu nggak akan humming melodi-nya seharian. Ini musik yang hadir tapi nggak menempel—setidaknya, tidak dengan cara biasa.

Untuk Siapa Sih Ini Album?

Album ini bukan untuk semua orang. Dan itu nggak masalah. Justru itu poinnya. Kalau kamu penggemar Nils Frahm, Ólafur Arnalds, atau film-film Sofia Coppola, kamu akan merasa seperti menemukan rumah.

Tapi kalau kamu nyari lagu buat road trip atau buat nangis-nangis galau sambil dengerin lirik yang relate, kamu bakal kecewa. Ini album yang butuh partisipasi aktif.

“Markers and Such Pens” adalah album yang membutuhkan pendengar yang mau bekerja sama. Kamu harus aktif dalam mendengarkan, bukan pasif.

Kesimpulan: Eksperimen yang Berani, Tapi Bukan untuk Semua

Jadi, unik atau terlalu aneh? Jawabannya: dua-duanya. Album ini sangat unik dalam eksekusinya, tapi memang terlalu aneh untuk mainstream. Dan itu bukan celaan. Ini pilihan artistik yang harus dihargai.

Sal Priadi dengan “Markers and Such Pens” membuktikan dia bukan cuma songwriter yang jago nulis lirik. Dia composer yang punya dunia sendiri. Dunia yang nggak butuh kata-kata untuk bercerita.

Nilai akhir? Kalau kamu terbuka sama eksperimen, ini 8.5/10. Tapi kalau kamu butuh musik yang lebih konvensional, mungkin ini cuma 5/10 yang bikin kamu bertanya-tanya, “Sal, lu kenapa?”

Intinya: Markers and Such Pens adalah album yang akan age well. Mungkin nggak populer sekarang, tapi lima atau sepuluh tahun lagi, orang akan lihat ini sebagai tonggak penting dalam karier Sal Priadi. Sebuah deklarasi: aku bisa bikin apa aja yang aku mau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Kupas Tuntas Album Taylor Swift “The Tortured Poets Department”: Review Trek Per Trek

Taylor Swift kembali dengan album yang bikin kita semua terdiam sejenak. The…

Review Album Tulus “Manusia” Setelah 2 Tahun: Apakah Masih Menjadi Masterpiece-Nya?

Dua tahun sudah berlalu sejak Tulus lepas album Manusia. Banyak yang bilang…

Review Ep Mahalini “Fabula”: Apakah Kualitas Vokalnya Sesuai Ekspektasi Live?

Ada momen ketika kau mendengar seorang penyanyi live dan bulu kudukmu berdiri.…

Review Jujur Album Bernadya “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan”: Relate Atau Berlebihan?

Semua orang butuh lagu galau, tapi kadang kita juga muak dengan lirik…