Marilah kita jujur: kebanyakan lagu soal mental health terasa seperti kata-kata motivasi murahan yang ditempel di dinding kantor. Manis di permukaan, tapi tidak pernah benar-benar menyentuh. Kita butuh sesuatu yang lebih dari sekadar “semua akan baik-baik saja”. Kita butuh seseorang yang berani bilang, “aku juga tidak tahu, dan itu tidak apa-apa.” Itu tepat yang dilakukan Hindia di album ini.
Kenapa Album Ini Berbeda: Kejujuran yang Menyakitkan
Album ketiga Hindia, “Lagipula Hidup Akan Berakhir”, tidak datang untuk menyembuhkan. Ia datang untuk duduk di sampingmu, diam-diam, sambil menatap kehampaan yang sama. Rilis pada 2023 melalui label Sun Eater, album ini adalah bukti bahwa Baskara Putra tidak lagi peduli dengan citra indie pop star yang terlalu sempurna.
Produksi dari Ankatius dan Baskara sendiri sengaja meninggalkan kejernihan Menari dengan Bayangan. Suara gitar akustik sering terdengar seperti direkam di kamar tengah malam. Suara ambien—bunyi hujan, suara jalan, bisikan—menjadi karakter sendiri. Ini bukan kecelakaan teknis, ini pilihan artistik yang brutal.
Lirik Sebagai Jurnal Terbuka
Di sini, lirik bukan puisi yang dirapikan. Ini catatan harian yang tumpah tanpa sensor. Baskara tidak menggunakan metafora rumit untuk melukiskan depresi. Ia langsung saja bilang: “Aku lelah menjadi manusia” atau “Semua ini terasa seperti latihan yang sia-sia.”
Ketika ia menyebut mental health, ia tidak menjadikannya hashtag. Ia tunjukkan luka. Ia biarkan darahnya mengalir di setiap baris. Dan itu yang membuat kita, pendengar, merasa tidak sendirian.
Highlight Lirik yang Menusuk
Di trek pembuka “Membasuh”, ia nyanyikan: “Bukan berarti aku lemah, hanya saja aku sudah habis.” Baris sederhana tapi tepat sasara. Ia membedakan antara kelelahan dan kelemahan—sesuatu yang jarang diakui budaya produktivitas.
Lalu di “Cincin”, ia menggambarkan kecemasan hubungan dengan: “Kita saling cinta, tapi juga saling jadi pengingat luka.” Tidak ada penyelesaian. Hanya pengakuan bahwa cinta bisa jadi sumber kecemasan juga.
Tapi yang paling menggetarkan adalah judul album itu sendiri, “Lagipula Hidup Akan Berakhir”. Bukan ajakan untuk menyerah, tapi izin untuk melepaskan. Untuk berhenti terlalu keras pada diri sendiri.
Aransemen yang Tidak Sekadar “Indie”
Album ini bermain-main dengan dinamika yang ekstrem. “Sialan” dimulai dengan gitar akustik yang hampir tak terdengar, lalu meledak menjadi distorsi yang mencekik di tengah-tengah. Itu bukan hanya bangunan lagu—itu simulasi panic attack dalam bentuk audio.
Penggunaan synth pad yang mengalun di belakang banyak trek menciptakan suasana yang tidak nyaman. Tidak menenangkan, tapi juga tidak sepenuhnya chaos. Itulah titiknya: hidup dengan kecemasan adalah hidup di zona abu-abu itu.
Di “Kita Bukan Pahlawan”, drum yang terdengar seperti di-rekam dari ruangan sebelah menambah rasa isolasi. Semua instrumen sengaja tidak “ketemu” secara sempurna. Mereka saling menjaga jarak, seperti manusia yang saling tidak mengerti.
Soundtrack untuk Patah Hati yang Tenang
Beda dengan album sebelumnya yang masih punya momen-momen singalong ceria, di sini hampir tidak ada tempat untuk bernyanyi bersama. Lagu-lagunya lebih seperti monolog yang tidak diundang, tapi kamu biarkan saja masuk.
Paduan suara yang dulu gemuruh kini hanya jadi bisikan. Gitar elektrik yang dulu berani kini malu-malu. Semua terbalik, dan itu tepat menggambarkan perasaan ketika depresi datang: dunia menjadi terbalik, tapi dalam keheningan.

Tracklist yang Berjalan Seperti Terapi
Urutan lagu bukan sekadar tracklist, itu skenario. Ia ajak kamu turun ke dalam, lalu perlahan-lahan naik lagi—walau tidak sepenuhnya sembuh, tapi cukup untuk bernapas.
- “Membasuh” – Pengakuan lelah. Titik terendah.
- “Sialan” – Amarah yang terpendam akhirnya pecah.
- “Cincin” – Kecemasan soal hubungan dan kehilangan.
- “Kita Bukan Pahlawan” – Pelepasan dari ekspektasi besar.
- “Lagipula Hidup Akan Berakhir” – Penerimaan. Bukan bahagia, tapi damai.
- “Sisa Hari” – Epilog yang masih suram, tapi ada cahaya tipis.
- “Terima Kasih, Maaf, Aku Mencintaimu” – Penutup yang tidak menyelesaikan apa-apa, tapi cukup.
Perjalanan ini tidak linear. Ia bolak-balik, seperti pikiran sendiri. Dan itu yang membuatnya nyata.
Pesan Utama: Hidup Memang Berakhir, Tapi…
Inti dari seluruh album bukan pesan nihilistik. Justru sebaliknya. Dengan mengingatkan kita bahwa semua akan berakhir, album ini memberi izin untuk hidup sekarang—walau berantakan, walau tidak sempurna.
Baskara tidak bilang “cari bahagia”. Ia bilang “cari napas dulu”. Itu saja sudah cukup. Dan dalam dunia yang terus memaksa kita untuk “berkembang”, izin untuk sekadar “ada” adalah hadiah terbesar.
Album ini bukan obat. Ini adalah tangan yang meraih tanganmu di tengah gelap. Ia tidak menuntutmu untuk sembuh cepat. Ia hanya berkata, “Aku di sini. Kita sama-sama tidak tahu. Dan itu tidak apa-apa.”
Perbandingan dengan Album Sebelumnya
Jika “Menari dengan Bayangan” (2021) adalah upaya untuk memahami kesedihan dari jarak aman, maka “Lagipula Hidup Akan Berakhir” adalah saat kamu sudah terjun ke dalamnya. Tidak ada filter. Tidak ada kacamata rose-tinted.
| Aspek | Menari dengan Bayangan (2021) | Lagipula Hidup Akan Berakhir (2023) |
|---|---|---|
| Tema Utama | Intropeksi, nostalgia | Depresi, kelelahan eksistensial |
| Suara Vokal | Clear, teatrikal | Raw, bisikan, terengah |
| Produksi | Polished, cinematic | Lo-fi, ambient, terpisah-pisah |
| Emosi Dominan | Melankolis tapi hangat | Dingin, kosong, tapi nyata |
| Single Terkuat | “Evaluasi”, “Secukupnya” | “Membasuh”, “Cincin” |
Perubahan ini drastis. Dan itu sengaja. Baskara tidak ingin mengulang formula yang sama. Ia ingin tumbuh, walau tumbuhnya ke arah yang lebih gelap.
Mengapa Album Ini Penting untuk Scene Musik Indonesia
Industri musik lokal masih malu-malu soal mental health. Penyanyi yang bicara depresi sering diberi label “galau berlebihan”. Hindia menghancurkan stereotip itu. Ia tunjukkan bahwa kejujuran adalah keberanian, bukan kelemahan.
Dengan posisinya sebagai salah satu frontman band paling dihormati, keputusan Baskara untuk membuka luka ini memberi izin pada generasi musisi muda untuk berbuat sama. Tidak perlu selalu ceria. Tidak perlu selalu kuat.
Album ini juga membuktikan bahwa musik Indonesia bisa jadi eksperimental tanpa kehilangan jati diri. Ambien, post-rock, dan folk disatukan tanpa terdengar seperti rip-off band-barat. Ini suara Jakarta yang pukul 3 pagi, bukan Brooklyn.

Kesimpulan: Teman yang Tidak Menghakimi
Setelah putar ulang album ini sebelas kali—ya, saya hitung—saya sadar satu hal: ini bukan album yang kamu dengar untuk sembuh. Ini album yang kamu dengar ketika kamu sudah lelah berpura-pura sembuh.
Kekuatan terbesar Hindia adalah ia tidak berperan sebagai terapis. Ia berperan sebagai teman yang juga rusak. Dan dalam isolasi kecemasan, tidak ada yang lebih berarti dari pada menemukan seseorang yang berkata, “aku juga.”
Jadi ya, lagipula hidup akan berakhir. Tapi sementara itu, ada album ini. Dan untuk sementara, itu cukup.



