Beberapa tahun lalu, saya bisa menghabiskan tiga jam duduk di kafe, menelan lagu-lagu pop yang diputar berulang di radio. Sekarang? Dua menit saja cukup membuat saya gelisah. Bukan karena musiknya buruk—tapi karena rasanya seperti mengunyah udara: manis di mulut, hilang seketika.

Ini bukan opini elitis tentang “musik zaman sekarang jelek”. Ini catatan perjalanan seseorang yang akhirnya sadar: kenyamanan sering kali adalah perangkap. Dan pop mainstream, dengan segala kemudahannya, telah menjebak telinga kita dalam lingkaran yang terlalu aman.

Rasa Hambar di Balik Produksi Mewah

Pop mainstream hari ini terasa seperti restoran fast food dengan dekorasi Michelin. Produksinya sempurna—autotune halus, beat yang dipoles sampai kilat, drop yang tepat di detik ke-30. Tapi di balik itu semua, apa yang tersisa?

Saya pernah hitung: dari 15 lagu pop teratas Billboard tahun lalu, 13 menggunakan chord progression yang sama—C-G-Am-F atau variasinya. Bukan kebetulan. Ini formula yang sudah terbukti bekerja, seperti comfort food untuk telinga. Tapi makanan nyaman terus-menerus bikin lidah kehilangan selera.

Yang lebih mengkhawatirkan: lagu-lagu ini tidak lagi ditulis untuk didengar, tapi untuk dijadikan konten. TikTok hooks, Instagram Reels, YouTube Shorts. Durasi 15 detik adalah target, bukan bonus. Kita tidak lagi memiliki lagu—we have soundbites.

Algoritma Menjadi Kurator Budaya

Spotify Wrapped saya 2019 hampir identik dengan teman kantor yang tidak pernah kita diskusikan musik sama sekali. Itu titik balik. Kita percaya algoritma membantu menemukan musik baru, tapi sebenarnya?

Algoritma Spotify, Apple Music, atau YouTube bekerja seperti echo chamber musik. Kamu dengar lagu A, mereka rekomendasikan A.1, A.2, A.3—variasi kecil dari yang sama. Risiko nol. Kejutan nol. Akhirnya, kita hanya mendengar versi berbeda dari diri kita sendiri.

Baca:  Comeback G-Dragon "Power": Review Kualitas Musik Setelah Hiatus Panjang

Ketika Lirik Hanya Jadi Latar Belakang

Ingat lagu pop yang liriknya bikin kamu berhenti sejenak, terpana? Sekarang lirik pop seperti teks iklan: catchy, tapi kosong. “Love you baby, miss you crazy, drive me maybe”. Itu bukan ekspresi—itu filler.

Saya bandingkan lirik lagu pop 2020-an dengan album Hejira Joni Mitchell (1976). Joni butuh satu baris—”I’m traveling in some vehicle, I’m sitting in some café”—untuk merangkum kesendirian dan kebebasan. Pop modern butuh 30 baris untuk bilang “aku sedih” tanpa pernah menjelaskan mengapa sedihnya.

Pop mainstream tidak buruk—itu hanya tidak berani. Dan telinga yang terlalu lama di zona nyaman lupa cara mendengar ketidaknyamanan.

Paradoksnya: semakin keras kita streaming, semakin sedikit yang kita dengar. Kita jadi passive listener, konsumen suara, bukan pendengar musik.

Pencarian Alternatif yang Nyata

Berhenti dari pop mainstream bukan berarti berhenti dari pop. Saya justru menemukan: pop yang sebenarnya ada di luar label “pop”. Musik yang masih punya melodi, tapi juga punya gigi. Yang menggigit.

Dunia Indie yang Lebih “Berisik” dan Jujur

Pertama kali dengar Phoebe Bridgers, rasanya seperti ditegur halus: “Oh, kamu bisa begini ya?” Lagu “Motion Sickness” tidak punya drop bombastis, tapi ada emotional drop yang jauh lebih sakti. Dia tidak menyanyi about perasaan—dia membuat kamu merasakan.

Atau Japanese Breakfast. Michelle Zauner menulis lagu pop yang terdengar seperti diary entry yang tidak disensor. “Be Sweet” punya beat yang gembira, tapi liriknya soal penyesalan dan keinginan yang tidak terpenuhi. Kontras itu yang membuatnya manusiawi.

Daftar cepat untuk telinga yang bosan:

  • Arlo Parks – Poetry R&B yang bikin merenung di bus
  • Faye Webster – Indie pop dengan pedal steel yang dreamy tapi tidak murahan
  • The Japanese House – Elektronika yang melankolis, produksi rumit tapi intim
  • Wet Leg</strong – Post-punk revival yang sarkastik dan sangat catchy (tapi tidak dangkal)

Mendengar Kembali Musik “Lama” dengan Telinga Baru

Kejutan terbesar: kembali ke katalog lama tapi dengar dengan niat. Kate Bush Hounds of Love (1985) terasa lebih futuristik daripada 80% produksi 2024. The Cure Disintegration (1989) punya soundscape yang lebih immersive daripada sekian banyak album “ambient” modern.

Baca:  Analisis Lagu "Apartment" Bruno Mars & Rosé: Kenapa Lagunya Bisa Viral Di Tiktok?

Saya buat eksperimen: satu minggu hanya dengar album pre-2000. Hasilnya? Telinga saya reset. Saya kembali bisa mendengar nuansa: masing-masing instrumen punya ruang, lirik tidak perlu diulang 20 kali untuk menancap, dan—yang paling penting—ada kesalahan yang manusiawi.

Rekomendasi Langsung untuk Telinga yang Bosan

Mari praktis. Ini bukan daftar “lagu indie terbaik”, tapi gateway drugs keluar dari lingkaran pop mainstream:

  1. Jika kamu suka Taylor Swift, coba boygenius – Trio supergroup indie yang punya harmoni lebih kaya dan lirik lebih tajam
  2. Jika kamu suka Dua Lipa, coba Rina Sawayama – Pop yang tidak takut eksperimen, genre-bending yang nyata (bukan sekadar tagline)
  3. Jika kamu suka Ed Sheeran, coba Adrianne Lenker – Folk yang mentah, tidak ada filter, hanya gitar dan luka
  4. Jika kamu suka Drake, coba Earl Sweatshirt – Hip-hop yang introspektif, tidak perlu flexing untuk terdengar berat

Tabel perbandingan untuk jelas:

AspekPop Mainstream 2024Alternatif Pilihan
ProduksiOver-polished, digital sempurnaHuman imperfection, analog warmth
LirikGeneral, safe, TikTok-readyPersonal, specific, narrative-driven
StrukturFormula: intro-verse-chorus-verse-chorus-bridge-chorusExperimental, fluid, sometimes no chorus at all
TujuanViral, streaming numbersEkspresi, connection

Kesimpulan: Bukan Elitisme, Tapi Pencarian Makna

Berhenti mendengar pop mainstream bukan soa menjadi hipster atau elitis. Ini soal mengembalikan kontrol kepada telinga sendiri. Algoritma tidak tahu kamu sedang ditinggal teman atau merayakan promosi. Itu hanya tahu: kamu dengar X, maka kamu suka X.

Musik yang bagus seharusnya membuat kamu bertanya, bukan hanya membuat kamu bergoyang. Kadang pertanyaannya sederhana: “Apa ini?” Kadang kompleks: “Mengapa ini membuat saya tidak nyaman?”

Pop mainstream tidak akan mati—dan tidak perlu. Tapi telinga kita butuh diet. Butuh makanan yang lebih bergizi, lebih pahit, lebih asam, lebih manusiawi. Jadi coba satu minggu: hapus playlist “Today’s Top Hits”. Ganti dengan satu album yang direkomendasikan di atas. Dengar dari awal sampai akhir. Tanpa skip.

Siapa tahu, kamu juga akan berhenti. Bukan karena muak, tapi karena sudah menemukan sesuatu yang lebih berani untuk didengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Analisis Tren “Speed Up” Songs di TikTok: Apakah Merusak Apresiasi Karya Asli?

Baru-baru ini kamu dengerin lagu favoritmu di Spotify dan tiba-tiba terasa… aneh.…

Analisis Algoritma Spotify: Bagaimana Lagu Indie Bisa Tiba-tiba Masuk Playlist “Lagi Viral”?

Ada momen magis yang sering dialami penikmat musik indie: kamu sedang asyik…

Review Lagu “Gala Bunga Matahari”: Interpretasi Kematian Yang Indah Atau Menyeramkan?

Masihkah ada cara lebih indah untuk berpamitan selain jadi bunga matahari yang…

Bedah Makna Lagu “Penjaga Hati” Nadhif Basalamah: Review Lirik & Komposisi Musik

Ada saatnya kita semua pernah jadi penjaga hati—bukan pemiliknya. Posisi itu penuh…