Dua Lipa kembali dengan album baru yang langsung mendapatkan pujian melimpah dari berbagai media besar. Tapi setelah diputar berulang kali, ada sesuatu yang terasa mengganjal—seperti menonton film blockbuster dengan plot yang sudah ditebak sejak trailer pertamanya. Kritikus ramai-ramai menyebutnya evolusi, tapi sebagai pendengar yang telah mengikuti perjalanannya sejak Future Nostalgia, aku justru merasa ini adalah titik di mana Dua Lipa mulai bermain terlalu aman.
Sebelum kita terperangkap dalam euforia chart performance dan streaming numbers, mari kita bicara soal hal-hal yang sebenarnya mengganggu—yang jarang diungkap karena takut dicap “tidak paham aransemen modern”.
Produksi yang Terlalu “Aman” di Zona Nyaman
Kevin Parker dari Tame Impala dan Danny L Harle ikut andil dalam produksi. Nama-nama besar yang seharusnya membawa warna baru. Namun hasilnya? Sebuah album yang terdengar seperti Future Nostalgia versi 1.5, bukan sekuel yang berani.
Tiap trek hadir dengan formula yang bisa ditebak: bassline disco yang menggroovy, synth pad yang lembut, dan buildup drop yang tepat di detik 45-60. Ini bukan evolusi—ini adalah resep instan yang sudah terbukti laku di pasaran.

Kebosanan Sonic yang Tersembunyi
Ketika “Houdini” dirilis sebagai single pertama, semua orang terkesima dengan groove-nya. Tapi cobalah dengarkan “Training Season” dan “Illusion” secara berurutan. Anda akan mendengarkan variasi yang sama dari satu template produksi.
- Intro minimalis dengan vokal Dua Lipa sebagai fokus utama
- Build-up bertahap dengan tambahan layer synth di chorus kedua
- Bridge yang “meledak” sebelum kembali ke chorus final
Struktur ini bekerja untuk satu atau dua lagu, tapi ketika diulang di hampir seluruh album, ia berubah dari strategi menjadi kebiasaan malas.
Lirik yang Masih Berputar di Tempat
Dua Lipa berusia 28 tahun. Ia telah melalui hubungan publik, tekanan ketenaran global, dan perjalanan pencarian diri di tengah pandemi. Tapi lirik-liriknya masih terjebak dalam narasi “aku kuat, kau lemah” yang sama sejak 2017.
Lihat saja baris-baris ini dari “Illusion”:
“You think I’m gonna fall for your illusion / But I see through your delusion”
Kata-kata yang terdengar powerful tapi kosong. Tidak ada cerita spesifik, tidak ada detail yang menggigit. Bandingkan dengan lirik-lirik personal dari artis seusia seperti Olivia Rodrigo atau Billie Eilish—mereka berani menunjukkan luka, kebimbangan, dan ketidaksempurnaan.
Dua Lipa justru terjebak dalam persona “queen” yang tak tersentuh, yang meski terdengar menginspirasi, lama-lama terasa seperti kulit tebal yang tak mau robek.
Potensi Vokal yang Terpendam
Inilah yang paling menyakitkan: Dua Lipa punya suara yang unik. Tidak sekadar nada, tapi karakter—suara kontralto yang bisa terdengar vulnerable dan powerful secara bersamaan. Tapi di album ini, ia diperlakukan seperti instrumental sampling daripada vokal utama.
Produksi terlalu sibuk menunjukkan kecanggihan synth dan pad, sementara vokalnya diproses, di-chop, dan di-layer hingga kehilangan human touch. Di “Whatcha Doing”, ia hampir terdengar seperti AI-generated voice—sempurna tapi tidak bernyawa.
Momen-momen di mana ia bisa saja sedikit “berantakan”—sedikit cracks, sedikit breathy intimacy—justru dihilangkan demi perfection yang akhirnya terasa dingin.

Obsesi dengan Formula Disco-Pop
Future Nostalgia sukses karena timing-nya tepat: dunia butuh escapism di tengah kekacauan. Tapi sekarang, di 2024, disco revival sudah menjadi mainstream fatigue. Dari Beyoncé hingga Lizzo, semua orang sudah memainkan kartu ini.
Yang membuat Dua Lipa spesial dulu adalah ia membawa nuansa modernitas ke dalam nostalgia. Sekarang ia justru terjebak di dalamnya. Album ini tidak punya satu pun trek yang berani keluar dari comfort zone—tidak ada eksperimen pop-rock, tidak ada sentuhan elektronika yang lebih gelap, tidak ada ballad akustik yang raw.
Bahkan “Maria”—yang seharusnya jadi tribute personal kepada Madonna—terdengar seperti lagu filler yang diberi nama besar. Ia tidak punya edge, tidak punya risiko. Hanya simulasi dari simulasi.
Kesimpulan: Kita Masih Butuh Dua Lipa, Tapi…
Jujur saja, album ini akan tetap jadi soundtrack pesta dan gym di seluruh dunia. Ia akan menduduki chart, memecahkan rekor streaming, dan memenangkan beberapa kategori di Grammy. Tapi di bawah semua angka itu, ada pertanyaan yang mengganggu: apakah ini semua yang bisa Dua Lipa tawarkan?
Kritikus mainstream takut mengangkat isu ini karena Dua Lipa adalah simbol empowermen dan representasi yang penting. Tapi sebagai penikmat musik, aku merasa kita berhak menuntut lebih dari artis yang punya segala sumber daya untuk berkembang.
Album yang sempurna secara teknis, tapi terlalu takut untuk tidak sempurna secara artistik.
Kita butuh Dua Lipa yang tidak hanya membuat kita dance, tapi juga membuat kita merasa sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar euforia tiga menit. Sampai saat itu tiba, album ini hanya akan jadi koleksi lagu-lagu bagus yang terlupakan setelah trend berikutnya muncul.




