Kamu pasti pernah ngerasain kan, bosan dengan lagu-lagu di playlist yang terasa datar, tanpa jiwa? Era streaming bikin kita kebanjiran musik, tapi justru yang kita cari adalah feeling—rasa yang hilang. Nah, kalau begitu, kamu butuh obatnya: City Pop. Genre ini bukan sekadar musik lawas, tapi seperti mesin waktu yang ngajak kamu kabur sejenak ke Tokyo tahun 1983.

Apa Sih City Pop Itu? (Dan Kenapa Kamu Bakal Ketagihan)

Bayangin kamu naik sedan putih lewat jalanan Shibuya yang basah hujan, lampu neon menyilaukan, dan dashboard mobil menampilkan jam 11 malam. Itulah City Pop. Lahir di Jepang era 80-an, genre ini mencampurkan funk, jazz fusion, disco, dan soft rock dengan lirik tentang kehidupan urban—cinta, kesepian, dan mimpi-mimpi metropolitan.

Yang bikin beda adalah sound design-nya. Synthesizer yang mengalun lembut tapi tegas, bassline yang groovy banget, terutama yang pakai slap bass khas era itu, plus gitar elektrik dengan efek chorus yang bikin atmosfernya terasa dreamy. Semua direkam dengan teknik studio yang immaculate, hasilnya bersih dan polished sampai sekarang masih terasa modern.

  • Synthesizer & Keyboard: Roland Juno-60, Yamaha DX7 jadi tulang punggung sound
  • Bassline: Slap bass yang funky, mengalir seperti darah di nadi kota
  • Lirik: Tentang cinta di malam hari, kesepian di apartemen, atau perjalanan tanpa tujuan
  • Artwork: Cover album yang iconic—gambar wanita stylish, mobil mewah, pemandangan kota—semua pakai palet warna pastel yang kini jadi aesthetic Instagram

5 Lagu Wajib yang Bakal Jadi Obsesimu

Nggak perlu pusing cari-cari. Ini adalah essential tracks yang representatif banget. Kamu cukup dengar lima ini, dan jaminan bakal terjerumus.

1. Mariya Takeuchi – “Plastic Love” (1984)

Ini bukan sekadar lagu, tapi phenomenon. Rilis 1984, tapi viral di YouTube 2017 lewat upload yang punya visual anime fan-made. Mariya nyanyiin tentang cinta yang palsu—tapi dengan nada yang justru upbeat dan penuh semangat.

Baca:  5 Album Jazz Indonesia Untuk Pemula: Review Ardhito Pramono Hingga Maliq & D'Essentials

Yang bikin nagih adalah bassline-nya yang walking terus dari awal sampe akhir, sementara synthesizer melodinya mengalir seperti asap rokok di lounge. Terus ada bridge di menit 3:30 yang tiba-tiba naik satu oktaf, bikin bulu kuduk berdiri. Ini lagu yang pas buat kamu yang baru putus, tapi malah pengen joget.

2. Miki Matsubara – “Stay With Me” (1979)

Kalau “Plastic Love” tentang move on, “Stay With Me” adalah keputusasaan total. Miki Matsubara punya suara yang powerful tapi vulnerable, terutama di bait pertama “Pleasure’s mine, ah stay with me…”

Arrangement-nya lebih orchestral—ada brass section yang blaring di chorus, ditambah piano yang memainkan akord jazz yang complex. Lagu ini booming lagi karena TikTok, tapi yang bener-bener nge-hit adalah feeling-nya yang desperate tapi tetap elegan. Cocok buat kamu yang lagi late night drive sendirian.

3. Tatsuro Yamashita – “Ride on Time” (1980)

Disebut the king of City Pop, Tatsuro Yamashita bikin lagu ini untuk albumnya yang super ikonik. “Ride on Time” adalah pure energy—tempo cepat, drum yang tight, dan bass yang slap dari menit pertama.

Terus ada key change di akhir yang bikin lagu ini terasa seperti roller coaster. Tatsuro punya kemampuan bikin lagu yang terdengar happy tapi sebenarnya punya depth emosional. Ini lagu yang harus kamu denger sambil ngebut di jalan tol (dengan aman, tentunya).

4. Kaoru Akimoto – “Dress Down” (1986)

Ini hidden gem yang akhirnya ditemukan generasi baru. “Dress Down” punya vibe yang lebih sensual dan intimate. Liriknya tentang melepas baju setelah lelah bekerja—metafora untuk jujur sama perasaan sendiri.

Yang unik adalah penggunaan talk box di intro, efek suara yang terdengar seperti robot yang nyanyi. Ditambah bassline yang syncopated dan synthesizer yang wet banget efek reverb-nya. Ini lagu untuk kamu yang pengen unwind di sofa sambil minum anggur.

5. Takako Mamiya – “Love Trip” (1982)

Kalau kamu suka lagu yang lebih mellow dan dreamy, “Love Trip” adalah jawabannya. Takako Mamiya punya suara yang ethereal, hampir seperti mendayu-dayu tapi tetap poppy. Albumnya jadi barang langka dan mahal di pasaran vinyl.

Lagu ini punya chord progression yang unik—pakai banyak diminished chord yang bikin terasa misterius. Synthesizer arpeggio-nya mengalir terus seperti air terjun, sementara liriknya tentang perjalanan cinta yang nggak pasti. Ini deep cut yang bakal bikin kamu tampil keren di circle pertemanan.

Baca:  10 Lagu Soundtrack Film Indonesia Terbaik: Review Kecocokan Emosi Dengan Filmnya

Mengapa City Pop Booming Lagi di 2024?

Bukan cuma soal nostalgia. Ada beberapa faktor konkret yang bikin genre ini relevan lagi.

City Pop adalah bentuk escapism yang sempurna untuk generasi yang lelah dengan realita. Musiknya yang optimistic tapi complex bikin kita bisa kabur sejenak, tapi tetap merasa intellectually stimulated.

Pertama, algorithm TikTok dan YouTube. Video “Plastic Love” yang diposting ulang berkali-kali punya view jutaan, dan platform otomatis ngerekomen lagu serupa. Efek rabbit hole ini bikin orang jatuh lebih dalam.

Kedua, aesthetic visual era 80-an Jepang lagi ngetren. Dari fashion vintage sampai desain grafis retro, semua pakai palet warna yang sama dengan cover album City Pop. Musik ini jadi soundtrack alami untuk gaya hidup itu.

Ketiga, banyak hip-hop producer dan lo-fi artist yang sampling lagu City Pop. Tyler, The Creator pernah bilang dia denger Tatsuro Yamashita. Mac Miller juga pernah pakai sample dari genre ini. Jadi ada bridge antara generasi.

Keempat, kualitas rekaman. Musik 80-an direkam dengan peralatan analog yang mahal, hasilnya warm dan dynamic range-nya lebar. Bandingkan dengan musik sekarang yang sering over-compressed, City Pop terasa lebih breathable di telinga.

Cara Menikmati City Pop Biar Makin Legit

Nggak cukup cuma denger lewat speaker laptop. Ada ritualnya.

  • Mendengarkan di Malam Hari: City Pop diciptakan untuk kota yang tidak pernah tidur. Dengerin jam 10 malam ke atas, idealnya sambil nge-drive atau naik transportasi umum.
  • Pakai Headphone Berkualitas: Butuh alat yang bisa tangkap detail bassline yang slap dan nuansa synthesizer. Earphone bawaan HP nggak cukup.
  • Bikin Playlist Berdurasi 1 Jam: Jangan cuma satu lagu. City Pop itu tentang journey. Bikin playlist yang mengalir dari yang upbeat ke yang mellow.
  • Explore Lebih Dalam: Setelah lima lagu di atas, coba dengar album lengkapnya. Terutama “For You” (Tatsuro Yamashita) dan “Variety” (Mariya Takeuchi).
  • Visualisasikan: Cari video performance live era 80-an di YouTube. Lihat gaya mereka, lighting-nya, cara mereka pakai synthesizer. Musik ini visual banget.

Kesimpulan: Biarkan Nostalgia Jadi Obat

City Pop booming lagi bukan karena kebetulan. Genre ini punya timeless quality yang ngasih kita sesuatu yang hilang di musik modern: humanity dan optimism yang tulus. Setiap bass slap, setiap synthesizer melody, semua terasa seperti pelukan hangat dari masa lalu.

Jadi, mulai sekarang, luangin satu malam. Matiin lampu, nyalakan playlist City Pop, dan biarkan diri kamu tenggelam. Jangan heret kalau besoknya kamu langsung cari vinyl asli di eBay. Itu tanda kamu sudah terinfeksi—dan itu indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Album Jazz Indonesia Untuk Pemula: Review Ardhito Pramono Hingga Maliq & D’Essentials

Jazz Indonesia sering kali ditempatkan di ranah yang terlalu tinggi: rumit, elitis,…

5 B-Side Track K-Pop Underrated 2024 Yang Wajib Masuk Playlist Kamu

Kamu pasti pernah ngerasa bosan dengerin title track yang itu-itu aja di…

10 Lagu Lo-Fi Untuk Kerja Fokus: Review Playlist Spotify Yang Jarang Ada Iklan

Ketika deadline mengintip tapi notifikasi ponsel tidak henti-hentinya berdering, konsentrasi menjadi barang…

Review 5 Lagu Metal Lokal Terbaik Untuk Olahraga (Workout Playlist)

Pernah nggak sih, lagi asik squat tapi lagu metal di playlist malah…