Masalahnya sederhana: BLACKPINK sudah jadi raja, tapi BABYMONSTER datang dengan energi yang bikin kita bertanya, “Apa ini evolusi atau justru revolusi?” Kita semua penasaran apakah YG Entertainment benar-benar punya formula segar atau cuma recycling template lama. Mari kita dengerin lebih dalam, bukan cuma di permukaan.
DNA YG: Warisan Suara yang Tak Pernah Mati
Sebelum kita bandingkan, kita harus paham dulu apa itu “suara YG”. Bukan cuma soal beat yang berat atau rap yang ngotot. Ini soal attitude yang menggelegak, vokal yang punya cakar, dan produksi yang tegas tanpa kompromi.
Dari BigBang hingga 2NE1, YG selalu punya ciri: rap yang jadi jantung, bukan cuma hiasan. Vokal yang bukan sekedar melodi indah, tapi penuh karakter. Dan yang paling penting, swag yang nggak perlu dipaksakan.
Kalau dengerin BABYMONSTER, DNA ini masih ada. Tapi ada mutasi yang menarik. Mereka lebih fluid, lebih playful. Nggak semena-mena kayak seniornya, tapi tetap punya gigitannya sendiri.
BLACKPINK: The Blueprint of Girl Crush
BLACKPINK mendefinisikan era. Bukan cuma soal hits, tapi soal bagaimana rap dan vokal jadi senjata utama. Jennie dan Lisa bikin rap jadi center of attention, bukan sekedar bridge filler.
Jennie & Lisa: Dua Sisi Koin Rap YG
Jennie punya rap yang versatile. Di “DDU-DU DDU-DU”, flow-nya rapat tapi tetap melodius, nyaris kayak nyanyi tapi tetap ngotot. Dia bisa switch dari agresif ke halus dalam satu bar.
Lisa? Dia adalah punchline queen. Rap-nya lebih kasar, lebih tegas. Di “Money”, delivery-nya kayak pukulan mukul, nggak ada basa-basi. Setiap syllable ditabok dengan presisi.

Jisoo & Rosé: Dinamika Vokal yang Seimbang
Jisoo adalah anchor. Vokalnya stabil, nada mid-range, memberikan warna matang yang menyeimbangi kegilaan beat. Di “Stay”, suaranya jadi pengingat kalau YG juga bisa gentle.
Rosé? Dia adalah signature sound. Falsetto-nya yang tipis tajam, vibrato cepat, dan head voice ringan jadi ciri khas. Di “Gone”, dia menunjukkan range D3 hingga F5 dengan emosi yang nyaris tangis.
BABYMONSTER: Generasi yang Belajar Cepat
BABYMONSTER nggak datang dengan modal muda doang. Mereka datang dengan homework yang udah dikerjain mati-matian. Tapi ada perbedaan mendasar: mereka lebih collaborative, lebih sedikit ego individual.
Ruka, Asa & Pharita: Rap Triple Threat
Ruka belajar dari Lisa tapi nggak jadi Lisa 2.0. Flow-nya lebih fluid, lebih natural. Di “BATTER UP”, dia nggak ngejar punchline, tapi nyaman dengan ritme yang lebih kompleks.
Asa adalah Jennie protégé tapi dengan tekstur lebih muda. Rap-nya agresif, tapi ada playful element. Di “SHEESH”, dia mainin flow trap modern yang lebih sulit diikuti, tapi rewarding.
Pharita? Masih cari identitas. Kadang dia rap, kadang nyanyi. Ini bukan kelemahan, tapi justru menunjukkan fleksibilitas generasi baru yang nggak mau dikotak-kotakin.
Rami, Rora & Chiquita: Vokal yang Lebih Padat
Rami adalah powerhouse. Vokalnya tebal, belt-nya kuat, nyaris mirip Rosé tapi dengan lebih banyak chest voice. Di “SHEESH”, dia naik ke F5 tanpa terdengar jeritan.
Rora adalah Jisoo generasi baru. Stabil, mid-range, tapi dengan sedikit lebih banyak emotion di lower register. Dia jadi penyeimbang yang tenang di tengah kegilaan.
Chiquita? Dia adalah wild card. High-pitched, fresh, nggak takut terdengar muda. Ini justru kekuatan di era TikTok yang suka suara unik dan memorable.
Perbandingan Langsung: Rap Battle
Mari kita samakan parameter. Kita bandingkan flow, delivery, dan attitude.
- Flow: BLACKPINK lebih minimalist. Mereka percaya pada empty space. BABYMONSTER lebih maximalist, isi setiap celah dengan syllable.
- Delivery: Jennie/Lisa tegas dan frontal. Ruka/Asa lebih conversational, kayak ngobrol tapi tetap ngancam.
- Attitude: BLACKPINK punya luxury swag—cool karena nggak peduli. BABYMONSTER punya hungry swag—energik karena mau buktiin sesuatu.
Contoh konkret: tempo rap Lisa di “Money” sekitar 132 BPM dengan rata-rata 8-9 syllable per detik. Asa di “BATTER UP”? 150 BPM dengan 11-12 syllable per detik. Ini bukan soal cepat, tapi complexity.
Perbandingan Langsung: Vocal Showdown
Vokal YG bukan soal siapa paling tinggi, tapi siapa paling memorable.
| Aspek | BLACKPINK | BABYMONSTER |
|---|---|---|
| Range Tertinggi | Rosé (F5 di “Gone”) | Rami (F5 di “SHEESH”) |
| Signature Technique | Rosé’s Falsetto | Rami’s Belt |
| Stability | Jisoo (Live King) | Rora (Rising Anchor) |
| Unique Color | Rosé’s Thin-Timbre | Chiquita’s High-Pitch |
Rosé punya vibrato cepat yang jadi trademark. Rami punya belt resonance yang lebih modern, lebih pop. Jisoo nyanyi live kayak di studio, Rora masih punya sedikit nervous energy yang manusiawi.

Lirik & Tematik: Dari Tahta ke Playground
BLACKPINK nyanyi tentang “I’m a queen”. BABYMONSTER nyanyi tentang “We’re the monster”. Ini beda filosofis.
Di “How You Like That”, liriknya tentang comeback dari kejatuhan, kembalinya sang ratu. Di “SHEESH”, liriknya lebih sederhana: “Sheesh, sheesh, sheesh”—bukan tentang makna, tapi tentang vibe.
BLACKPUN menggunakan luxury metaphor: “diamonds”, “kiss my money”. BABYMONSTER pakai youth slang: “batter up”, “sheesh”. Ini menunjukkan target audience yang berbeda.
Produksi & Aransemen: Evolusi Signature Sound
Teddy adalah arsitek suara BLACKPINK. Dia pakai sample-based production, heavy EDM drop, dan struktur yang repetitive tapi memorable. Di “DDU-DU DDU-DU”, drop-nya pakai synth brass yang jadi ikonik.
BABYMONSTER? Choice37 dan Choi Hyun Suk bawa trap influence yang lebih kuat. 808s yang lebih subby, hi-hat rolls yang lebih kompleks, dan sound design yang lebih experimental. Di “BATTER UP”, ada glitch effect di vocal yang nggak pernah dipakai BLACKPINK.
Kesimpulan Kunci: BLACKPINK bikin lagu untuk jadi soundtrack kehidupan. BABYMONSTER bikin lagu untuk jadi soundtrack TikTok challenge. Keduanya valid, tapi menunjukkan pergeseran konsumsi musik.
Final Verdict: Evolusi yang Sehat
BABYMONSTER bukan pengganti BLACKPINK. Mereka adalah adaptasi. YG nggak membuat kloning, tukang masak yang sama bikin menu baru dengan bumbu yang sama.
BLACKPINK punya legacy yang nggak akan tergantikan. BABYMONSTER punya potential yang nggak bisa diabaikan. Rap-nya lebih kompleks, vokal-nya lebih padat, tapi attitude-nya masih mentah.
Yang paling penting: ini menunjukkan YG masih percaya pada formula rap-vokal dominasi, tapi berani modifikasi untuk generasi yang lebih cepat, lebih hungry, dan lebih fluid. Nggak ada yang salah dengan itu. Justru itu yang bikin K-pop terus hidup.




