Era 2000-an adalah masa emas musik Indonesia. Di tengah gelombang pop rock yang mendominasi radio, dua nama menjadi rujukan utama: Sheila on 7 dan Dewa 19. Keduanya punya cara tersendiri membuat lagu melekat di kepala. Tapi pernahkah kamu berhenti sejenak dan benar-benar mendengar aransemen di balik suara mereka? Bukan sekadar lirik atau melodi, tapi cara setiap instrumen duduk bersama, menciptakan rasa yang berbeda-beda.

Sheila on 7 dan Dewa 19 seperti dua arsitek musik dengan filosofi berlawanan. Satu membangun dengan beton minimalis tapi kokoh, satunya lagi menata marmer yang mewah dan detail. Mari kita telusuri lapisan demi lapisan, mencari tahu kenapa aransemen mereka punya feel yang sangat khas.

DNA Aransemen: Melodi dan Harmoni

Sheila on 7 punya keahlian luar biasa dalam membuat melodi yang langsung catchy. Lagu seperti “Dan” atau “Seberapa Pantas” punya garis melodi vokal yang naik turun secara intuitif. Kamu bisa menyanyikannya bahkan setelah satu kali dengar. Aransemen mereka mengandalkan hook melodik yang kuat, sementara harmoni instrumen justru sengaja dipermudah.

Dewa 19 bergerak di spektrum yang berbeda. Harmoni mereka lebih kompleks, dengan progresi chord yang sering mengejutkan. Coba dengarkan aransemen “Kangen” atau “Cinta Kan Membawamu Kembali”. Ada dimensi-dimensi harmoni yang terasa jazzy dan soulful. Mereka tidak takut pakai chord diminished atau augmented yang memberi warna emosional lebih dalam.

Intinya: Sheila on 7 membuat melodi yang langsung menusuk, Dewa 19 membangun harmoni yang merangkul perlahan tapi erat.

Ritme dan Groove: Kaki yang Bergerak vs Hati yang Berdegup

Ritme Sheila on 7 cenderung straightforward dan energik. Drum mereka pakai pattern rock pop klasik dengan tempo yang sebagian besar medium-fast. “Sahabat Sejati” punya drive yang mengajak penonton melompat. Bass line mereka juga cenderung mengikuti root note, bikin groove yang stabil tapi nggak terlalu rumit.

Baca:  Reality Club Vs The Overtunes: Adu Konsep Musik Indie Pop Berbahasa Inggris

Dewa 19 punya pendekatan yang lebih laid-back

. Groove mereka sering dibuat dengan syncopation halus. “Arjuna Mencari Cinta” punya feel yang hampir funky di bagian verse. Erwin Prasetya, sang bassis, sering mainkan bass line yang melodi dan jadi elemen aransemen sendiri, nggak sekadar penyangga.

Instrumentasi: Minimalis vs Maksimalis

Sheila on 7 sangat hemat dalam penggunaan instrumen. Setiap suara punya fungsi jelas. Gitar akustik jadi tulang punggung banyak lagu mereka. Gitar elektrik masuk di momen tepat, biasanya untuk fill atau solo singkat. Keyboard hanya sebagai padding tipis di belakang. Ini bikin aransemen mereka terasa lapang dan udara bisa “bernapas”.

Dewa 19 adalah master of layering. Keyboard Andra Ramadhan jadi orkestra mini yang mengisi frekuensi dari rendah sampai tinggi. Gitar elektrik Ari Lasso (saat masih vokalis) atau Andra sering pakai efek delay dan reverb yang tebal. Ditambah string section (kadang synthesizer) yang memperkaya tekstur. Aransemen mereka terasa penuh, nggak ada ruang kosong.

Perbandingan Spesifikasi Instrumentasi

ElemenSheila on 7Dewa 19
Gitar AkustikDominan, jadi lead rhythmSupporth, kadang nggak ada
Gitar ElektrikClean, solo singkatHeavy effect, layer pad
KeyboardSimple piano/stringsComplex orchestration
BassRoot note orientedMelodic, counter-melody
DrumPop rock patternSoulful, dynamic fills

Lirik dan Vokal sebagai “Instrumen” Aransemen

Deki Yovie punya vokal yang raw dan conversational. Cara dia menyanyi itu bagian dari aransemen. Kadang dia terdengar seperti lagi curhat di teras, dan itu disengaja. Produksi vokalnya juga minimal, nggak banyak double tracking atau harmonization. Satu suara, satu cerita.

Once Mekel atau Ari Lasso punya teknik vokal yang jauh lebih teatrikal. Mereka pakai vibrato, falsetto, dan dinamika volume yang ekstrem. Di aransemen Dewa 19, vokal bukan sekadar penyampai lirik tapi instrumen utama yang berinteraksi dengan semua elemen lain. Ada momen di “Pupus” diat vokal Once hampir bersaing dengan gitar solo, saling tarik-menarik.

Baca:  Lyodra Vs Tiara Andini: Review Karakter Vokal Pada Lagu Ballad

Produksi dan Suara Era: Teknologi yang Membentuk Karakter

Album Sheila on 7 era 2000-an seperti Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000) dan 07 Des (2002) direkam dengan produksi yang cenderung kering (dry). Suara drum tidak terlalu compressed, gitar akustik terasa nyata. Ini bikin aransemen mereka terasa live dan organik, kayak lagi nonton mereka di studio.

Dewa 19 di era Bintang Lima (2000) dan Cintailah Cinta (2002) pakai teknologi produksi yang lebih modern untuk waktunya. Overdub berlapis-lapis, reverb yang lebar, dan mastering yang membuat semua instrumen terasa “mengkilap”. Aransemen mereka memanfaatkan studio sebagai instrumen, bukan sekadar ruang rekaman.

Kesimpulan: Dua Kutub, Satu Kenangan

Sheila on 7 dan Dewa 19 seperti dua sisi koin musik Indonesia era 2000-an. Satu menang lekatkan melodi sederhana dalam aransemen yang lapang. Satu lagi menang lewat harmoni kompleks dalam panggung suara yang megah. Keduanya punya DNA aransemen yang nggak bisa ditiru.

Yang membuat mereka istimewa bukan siapa yang “lebih bagus”. Tapi bagaimana mereka membuktikan bahwa simple bisa powerful, dan complex bisa tetap populer. Generasi kita beruntung punya dua pilihan arsitektur musik sekaya ini.

Pilihan akhirnya kembali ke telinga dan hati masing-masing. Mau bangunan yang kokol atau istana yang mewah? Di era 2000-an, kita punya keduanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Lyodra Vs Tiara Andini: Review Karakter Vokal Pada Lagu Ballad

Kalau kita ngomongin ballad Indonesia akhir-akhir ini, dua nama ini pasti muncul:…

Coldplay “Moon Music” Vs “A Head Full Of Dreams”: Penurunan Atau Evolusi Gaya Musik?

Coldplay tidak pernah stagnan. Tapi ketika Moon Music mendarat di telinga fans…

Reality Club Vs The Overtunes: Adu Konsep Musik Indie Pop Berbahasa Inggris

Reality Club dan The Overtunes sering muncul dalam satu breath ketika ngomongin…

Album Fisik Vs Streaming Digital: Mana Yang Lebih Worth It Untuk K-Pop Fans?

Memilih antara album fisik dan streaming digital bukan sekadar soal format—ini tentang…