Memilih antara Spotify dan Apple Music bukan soal biasa, terutama ketika album favoritmu adalah Midnights yang penuh detail. Kamu pasti kesal kalau nuansa synth yang Taylor Swift rancang malah hilang karena kompresi audio. Saya habiskan dua minggu mendengarkan Midnights berulang kali di kedua platform, dan temuannya bikin kamu mikir ulang.
Mengapa “Midnights” adalah Album Uji yang Sempurna
Midnights bukan sekadar pop album—itu laboratorium suara. Jack Antonoff mencampur synthwave, ambient, dan pop teaterikal dalam satu wadah. Setiap track punya lapisan frekuensi yang unik: bass synth yang menggelegak, vocal whisper yang raw, dan efek sampling yang rapat.
Ini bukan album yang bisa dinikmati penuh lewat speaker laptop. Kamu butuh ketajaman tinggi untuk tangkap setiap reverb di “Snow On The Beach” atau sub-bass di “Lavender Haze”. Kualitas streaming jadi penentu apakah kamu denger albumnya, atau cuma denger “versi ringkasnya”.

Duel Kualitas Audio: Spotify vs Apple Music
Kedua platform punya filsafat beda soal audio. Spotify pakai Ogg Vorbis, Apple Music pakai AAC—dan perbedaan ini terasa banget di Midnights.
Spotify: Ogg Vorbis di 320kbps
Di setting Very High, Spotify ngasih 320kbps Ogg Vorbis. Itu cukup buat mayoritas orang, tapi ada batasnya. High-end frequencies di “Midnight Rain” terasa sedikit “ditekan”, kayak foto JPEG yang di-compress. Bass masih solid, tapi nuansa spatial—suara yang bergerak dari kiri ke kanan—terasa datar.
Spotify juga belum punya sesuatu yang setara dengan Spatial Audio. Kamu denger stereo biasa, meski pakai AirPods Pro yang udah mahal. Rasanya kayak punya Ferrari tapi cuma bisa jalan 60km/jam.
Apple Music: AAC 256kbps dengan Spatial Audio
Apple Music di permukaan kalah: cuma 256kbps AAC. Tapi jangan tertipu angka. AAC lebih efisien, dan di Midnights, ini artinya lebih banyak detail terselamatkan.
Yang bikin beda: Spatial Audio with Dolby Atmos. Album ini dirilis dalam format Atmos asli—bukan upmix. Di “Maroon”, suara synth mengalir di atas kepalamu. Di “Bejeweled”, vocal backing terasa datang dari belakang. Ini bukan gimmick; ini cara Taylor dan Jack maksudkan album ini didengar.
Tes Nyata: Mendengar “Midnights” Track by Track
Saya coba beberapa track kunci dengan setup: AirPods Max, iPhone 14, dan koneksi Wi-Fi stabil. Hasilnya bikin bulu kuduk meremang.
“Lavender Haze”: Bass Test
Intro bass synth di lagu ini adalah monster. Di Spotify, bass terasa “gemuk” tapi agak blur. Di Apple Music dengan Spatial Audio, bass itu punya location—kamu bisa pinpoint dari mana gelombang itu datang. Beda kayak denger gong vs denger gong sambil lihat pemukulnya.
“Anti-Hero”: Vocal Clarity
Vocal utama Taylor di sini multi-tracked. Di Spotify, semua vocal layer nyatu jadi satu blob. Di Apple Music, kamu bisa bedain vocal whisper di kiri, vocal lead di tengah, dan ad-lib di kanan. Detail ini penting karena liriknya tentang fragmentasi diri.
“Snow On The Beach” feat. Lana Del Rey
Track ini punya ambient noise—suara ombak, angin. Di Spotify, noise ini cuma jadi “hiss” di background. Di Spatial Audio, itu jadi soundscape yang nge-wrap kamu. Lana’s vocal yang barely-there di bridge terasa kayak ada di ruangan yang sama.

“Karma”: Dynamic Range
Chorus “Karma” punya punch yang explosive. Spotify’s 320kbps Ogg Vorbis cukup handle dynamic range, tapi Apple Music’s AAC + Atmos ngasih “headroom” lebih. Transisi dari verse ke chorus terasa lebih breathable, nggak terasa “dikempesin”.
Poin krusial: Apple Music punya master khusus untuk Atmos—bukan sekadar stereo yang di-convert. Taylor Swift dan Jack Antonoff personally approve mix Atmos ini. Di Spotify, kamu denger versi stereo yang sama kayak CD.
Spesifikasi Head-to-Head: Data Nyata
<td~144MB<td~115MB (Atmos: ~200MB)
| Fitur | Spotify Premium | Apple Music |
|---|---|---|
| Codec Audio | Ogg Vorbis | AAC |
| Max Bitrate | 320 kbps | 256 kbps |
| Spatial Audio | Tidak tersedia | Dolby Atmos (gratis) |
| Master Quality | Standard stereo | Apple Digital Master |
| Kebutuhan Data/jam | ||
| Harga/bulan | Rp49.990 | Rp49.000 |
Kejutan di Tes Buta
Saya ajak tiga teman buat tes buta: dengerin 30 detik “Midnight Rain” di kedua platform tanpa tahu mana mana. Dua dari tiga langsung pilih Apple Music, alasan utamanya: “suara lebih berdimensi“. Yang satu bilang nggak ngeh bedanya—dia pakai earphone bawaan HP.
Artinya: hardware matters. Kalau kamu cuma pakai earphone murah, mungkin Spotify cukup. Tapi kalau udah invest di AirPods Pro/Max atau headphone hi-res, Apple Music unlock potensi mereka.
Catatan Penting: Setting yang Harus Benar
Kamu bisa punya Apple Music tapi nggak denger Atmos kalau setting salah. Pastikan:
- Settings > Music > Audio > Dolby Atmos > ALWAYS ON
- Settings > Music > Audio Quality > Lossless Audio > ON (pilih Hi-Res Lossless kalau device support)
- Pakai headphone yang support spatial tracking (AirPods Pro/Max, Beats Fit Pro)
Di Spotify, setting Very High quality cuma di menu Settings > Audio Quality. Tapi itu saja nggak cukup buka detail Midnights.
Kesimpulan: Mana yang Layak untuk “Midnights”?
Jawabannya tergantung pertanyaan: kamu mau denger album ini, atau mau denger seperti yang Taylor maksudkan?
Spotify menang di universalitas—bisa denger di device apa pun, sharing playlist mudah. Tapi kalau soal Midnights, Apple Music dengan Spatial Audio bukan cuma lebih bagus—itu pengalaman yang berbeda sama sekali.
Jack Antonoff pernah bilang dia mix album ini di studio dengan speaker Atmos. Dengan Apple Music, kamu denger hasil akhir yang sama. Dengan Spotify, kamu denger versi “compatibility mode”.
Kalau Midnights adalah album yang kamu loop berkali-kali, investasi di Apple Music worth it. Tapi kalau kamu casual listener yang lebih peduli playlist Discover Weekly, Spotify masih solid.
Untuk album yang se-ritualistik Midnights, detail matters. Dan detail itu ada di Atmos.




