Olivia Rodrigo tiba-tiba saja jadi bahan perbandingan dirinya sendiri. Dua album, dua era, satu pertanyaan: mana yang lebih dewasa? Ini bukan sekadar soal umur—dari 18 ke 20 tahun—tapi soal bagaimana musiknya tumbuh.

Kita semua terjebak nostalgia dengan SOUR, tapi GUTS datang dengan keberanian baru. Bukan lagi remaja yang menulis diary terbuka, tapi perempuan muda yang mulai bertanya, “Apa ini yang disebut dunia?”

Mari kita bedah kenapa GUTS sebenarnya jauh lebih dewasa secara musikalitas—dan kenapa justru itu membuatnya lebih liar.

Pertemuan Dua Dunia: Dari Rasa Asam ke Rasa Pahit

SOUR adalah ledakan. Album debutnya tahun 2021 itu seperti diary yang tercerobong dalam bentuk lagu-lagu pop-punk dan ballad piano. Semua terasa raw, langsung, tanpa filter. Dan itu kekuatannya.

Tapi GUTS datang dua tahun kemudian dengan misi berbeda. Olivia tidak lagi sekadar marah. Dia bingung, lelah, dan mulai sadar bahwa dunia tidak hitam-putih. Produksi Dan Nigro kembali, tapi kali ini ia membawa soundscape 90s rock yang lebih layered.

Bedanya? Kalau SOUR memukul dengan power chord dan breakup anthem, GUTS memukul dengan pertanyaan filosofis kecil tentang cinta, iri, dan jadi orang dewasa.

Lirik: Dari Diary Terbuka ke Pertanyaan Tertutup

Ingat “drivers license”? Liriknya langsung, spesifik, dan menyakitkan. “I got my driver’s license last week, just like we always talked about.” Semua orang bisa merasakan kehilangan itu.

Baca:  Lyodra Vs Tiara Andini: Review Karakter Vokal Pada Lagu Ballad

Nah, coba dengar “vampire” dari GUTS. “Bloodsucker, fame fucker, bleedin’ me dry like a goddamn vampire.” Di sini, Olivia tidak lagi bercerita tentang si dia yang pergi. Dia bercerita tentang parasit, tentang industri, tentang dirinya yang terlalu naif.

Perbedaan esensialnya: SOUR menyalahkan orang lain. GUTS menyalahkan dirinya—dan dunia.

Yang Membuat GUTS Lebih Tajam:

  • Metafora yang lebih gelap: “vampire”, “all-american bitch”, “ballad of a homeschooled girl”
  • Self-awareness: Dia tahu dia gugup, dia tahu dia overdramatik, dan dia justru jadikan itu bahan lagu.
  • Ketidakpastian: Bukan lagi “aku dicurangi”, tapi “aku bingung apa yang salah denganku.”

Aransemen: Kapan Minimalisme Berarti Kematangan?

Ini yang menarik. Banyak yang bilang SOUR lebih polished karena hit-hitnya lebih catchy. Tapi justru GUTS yang lebih dewasa dalam pilihan instrumen.

SOUR mengandalkan formula: piano ballad + pop-punk distortion + drum komputer. Sederhana, efektif, tapi prediksi.

GUTS malah main-main dengan grunge, alt-rock, bahkan sedikit indie folk. “get him back!” punya gitar akustik yang jangling seperti early 2000s, sementara “love is embarrassing” punya synth yang justru terdengar vintage.

Dan Nigro tidak lagi sekadar membuat lagu yang radio-friendly. Dia membuat lagu yang punya texture. Setiap trek punya lapisan yang bisa didengerin berulang kali dan kamu temukan detail baru.

Vokal: Letih, Liar, dan Lebih Berani

Di SOUR, Olivia menyanyi dengan emosi yang pure. Teriak di “good 4 u”, lirih di “favorite crime”. Semua terasa earnest.

Di GUTS, ia bereksperimen. Coba dengar “all-american bitch”. Dia mulai dengan suara manis-manis, terus mendadak naik pitch dan teriakan di akhir, seolah mengekspos dua sisi kepribadian. Ini teknik vokal yang jauh lebih sadar.

Atau di “vampire”, ia tidak lagi sekadar marah. Ada rasa lelah, frustrasi, dan sedikit nada sarkasme di setiap frase. Ini bukan sekadar “bernyanyi dengan benar”, tapi “bernyanyi dengan karakter.”

Baca:  Spotify Vs Apple Music: Tes Kualitas Audio Untuk Mendengar Album "Midnights"

Data Keras: Mari Kita Bandingkan

Kadang angka tidak bohong. Tapi ingat, maturitas tidak selalu terlihat di chart.

AspekSOUR (2021)GUTS (2023)
Umur Olivia18 tahun20 tahun
Produser UtamaDan NigroDan Nigro
Durasi Total34 menit 30 detik39 menit 20 detik
Lagu Terpendek“brutal” (2:23)“love is embarrassing” (2:35)
Genre DominanPop-punk, Piano BalladAlt-rock, 90s Grunge, Folk
Tema LirikPatah hati, pengkhianatanKebingungan, identitas, kelelahan

Catatan: GUTS lebih panjang bukan karena filler, tapi karena setiap lagu punya ruang bernapas lebih lega. Jeda antar bait lebih diperhitungkan.

Kesimpulan: Kekayaan Rasa di Balik Kematangan Musikal

Jadi, mana yang lebih dewasa? GUTS menang telak—tapi bukan karena itu yang “lebih baik”. Justru karena ia berani menjadi lebih kompleks dan kurang instantly gratifying.

“Maturitas musikal bukan soal seberapa sulit chordnya atau seberapa tinggi notnya. Tapi seberapa berani kamu tunjukkan ketidaksempurnaanmu.” – Dan Nigro dalam wawancara terkait GUTS

SOUR adalah album yang kamu putar saat baru putus dan butuh teman marah-marah. GUTS adalah album yang kamu putar saat kamu sudah lelah marah, dan mulai bertanya, “Lalu apa sekarang?”

Kematangan tidak selalu datang dengan jawaban. Kadang ia datang dengan pertanyaan yang lebih sulit. Dan itulah yang dibawa GUTS: sebuah album yang tidak lagi mencari validasi, tapi sudah mulai mencari arti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Reality Club Vs The Overtunes: Adu Konsep Musik Indie Pop Berbahasa Inggris

Reality Club dan The Overtunes sering muncul dalam satu breath ketika ngomongin…

Lyodra Vs Tiara Andini: Review Karakter Vokal Pada Lagu Ballad

Kalau kita ngomongin ballad Indonesia akhir-akhir ini, dua nama ini pasti muncul:…

Spotify Vs Apple Music: Tes Kualitas Audio Untuk Mendengar Album “Midnights”

Memilih antara Spotify dan Apple Music bukan soal biasa, terutama ketika album…

Ndx Aka Vs Guyon Waton: Perbandingan Fenomena Musik Koplo Jawa Di Spotify

Kalau kamu pernah nyasar ke playlist Spotify Indonesia dan bingung kenapa dua…