Tujuh tahun. Cukup lama untuk seorang anak masuk SD sampai lulus, atau untuk seseorang bangkrut dan bangkit lagi. Dalam dunia K-pop, tujuh tahun hampir setara dengan satu generasi penuh. G-Dragon menghilang saat sedang di puncak, dan kembali justru ketika semua orang sudah ragu: apakah dia masih relevan? “Power” bukan sekadar jawaban. Ini adalah pernyataan bahwa dia tidak pernah benar-benar pergi—hanya sedang mengumpulkan amunisi.

Kekuatan yang Tak Terduga di Era Baru

Intro “Power” langsung menampar dengan synth yang menggelegak seperti detak jantung yang baru bangun tidur. Bukan suara glamor ala “Crayon” atau “Fantastic Baby”, tapi lebih raw, lebih intimate. Produksi yang dipimpin sendiri oleh G-Dragon bersama Teddy dan 24 menunjukkan keberanian untuk tidak mengikuti tren EDM bombastis yang mendominasi K-pop 2024.

Beat-nya terasa spare tapi padat. Setiap ketukan snare seperti pukulan di dada. Yang menarik, dia tidak memakai drop yang mudah ditebak. Alih-alih memanjakan telinga dengan hooks instan, “Power” memilih untuk grow perlahan, seperti racun yang baru terasa efeknya setelah beberapa menit.

Vokal yang Lebih Manusiawi

Dulu, G-Dragon sering dipaksa menjadi karikatur dirinya sendiri: suara nasally yang terpotong-potong, rap cepat yang agresif. Kini, di “Power”, vokalnya terasa lebih breathy, lebih nyaman di range pertengahan. Dia tidak lagi berteriak untuk membuktikan sesuatu.

Ada momen di bridge—sekitar menit ke-2:34—di mana dia hampir whispering, “I got the power, but you got the key”. Itu bukan sekadar lirik. Itu adalah pengakuan dari seseorang yang sudah melalui segalaya dan menyadari bahwa kekuatan sejati bukan soal dominasi, tapi soal koneksi.

Lirik yang Menyentuh Akar

Lirik “Power” adalah cerminan dari perjalanan panjang G-Dragon sebagai Kwon Ji-yong, bukan sebagai idola. Dia menyebut “7 years of silence”, “they thought I was done”, dan “the crown is heavy”. Ini bukan flexing sembarangan. Ini adalah confession.

Layer Makna yang Tersembunyi

Kalau ditelusuri lebih dalam, lirik ini punya tiga layer:

  • Layer Publik: Respon kepada media, haters, dan pengamat yang sudah menguburkannya.
  • Layer Pribadi: Catatan harian tentang depresi, kecemasan, dan isolasi selama hiatus.
  • Layer Metaforis: “Power” sebenarnya tentang kekuatan untuk tetap hidup, bukan sekadar kekuatan untuk menang.
Baca:  Bedah Makna Lagu "Penjaga Hati" Nadhif Basalamah: Review Lirik & Komposisi Musik

Baris “They build you up to tear you down” terasa seperti direct quote dari setiap wawancara yang pernah dia berikan sejak 2009. Tapi kali ini, dia mengatakannya tanpa amarah. Hanya dengan rasa lelah yang tenang.

Aransemen Produksi: Detail yang Menggugah

Teddy dan 24 membawa nuansa yang berbeda dari produksi G-Dragon era “Coup d’Etat”. Ada influence dari UK garage di hi-hat, sedikit vibe dari early 2000s R&B di chord progression, dan soundscape ambient yang mengingatkan pada produksi Frank Ocean.

Padahal, ini masih terasa sangat G-Dragon. Cara dia menyisipkan ad-lib yang terdengar seperti terjatuh di studio, atau breath sound yang sengaja tidak di-edit halus, menciptakan rasa imperfect beauty. Bukan kesalahan teknis, tapi pilihan artistik.

Sound Design yang Penuh Cerita

Di belakang mix, ada suara static noise yang konstan, seperti radio yang mencari frekuensi. Metafora sempurna untuk seseorang yang mencoba menemukan suaranya kembali. Kemudian, di outro, semua instrumen dicabut satu per satu, sampai tersisa hanya suara vokal G-Dragon yang terdistorsi, seperti echo di gua.

Visual dan Aestetika: Lebih Dari Sekadar Video Klip

Video klip “Power” adalah masterclass dalam visual storytelling. Bukan lagi parade fashion mencolok ala “Crooked”. Kali ini, kita melihat G-Dragon dalam ruang putih kosong, berinteraksi dengan bayangannya sendiri yang terproyeksi di dinding.

Koreografi minimalis—hanya gerakan tangan dan ekspresi wajah—tapi penuh makna. Setiap gesture terasa seperti ritual pembebasan. Dia tidak menari untuk audiens. Dia menari untuk dirinya sendiri.

Simbolisme yang Menggantung

Ada satu adegan di menit ke-1:45: G-Dragon memegang mahkota, menatapnya, lalu meletakkannya di lantai. Bukan menjatuhkannya—tapi meletakannya dengan hati-hati. Seperti mengatakan: “I don’t need this to be powerful.”

Warna dominan putih, abu-abu, dan hitam. Tidak ada warna neon, tidak ada LED riot. Ini adalah G-Dragon yang telah menemukan kekuatan dalam kesederhanaan.

Baca:  Analisis Lagu "Apartment" Bruno Mars & Rosé: Kenapa Lagunya Bisa Viral Di Tiktok?

Perbandingan dengan Era Sebelumnya

Kita perlu jujur: “Power” bukan “Heartbreaker”. Itu bukan poin lemah. Itu adalah evolusi.

AspekEra “Coup d’Etat” (2013)“Power” (2024)
ProduksiLayered, kompleks, banyak sampleMinimalis, ruang kosong yang sengaja
LirikMetafora agresif, confrontationalIntrospektif, terbuka, raw
VisualHigh fashion, camp, maximalistMinimalist, performance art
VokalNasally, processedBreathy, natural, unfiltered

Perbedaan terbesar adalah emotional core. Dulu, G-Dragon ingin membuktikan dia yang terkuat. Kini, dia tidak peduli siapa yang terkuat. Dia hanya ingin jujur.

Apakah “Power” Mencerminkan Masa Depan G-Dragon?

Single ini adalah statement of intent. Bukan lagu radio-friendly. Bukan lagu untuk viral di TikTok. Ini adalah lagu untuk orang-orang yang mau duduk diam dan dengarkan.

Kalau “Power” adalah indikator, album penuh yang akan datang mungkin akan lebih eksperimental, lebih personal, dan lebih jauh dari format K-pop konvensional. G-Dragon tampaknya tidak lagi peduli dengan chart. Dia peduli dengan legacy.

“Power” bukan comeback. Ini adalah reinkarnasi. G-Dragon mati, dan Kwon Ji-yong yang kembali.

Resonansi dengan Generasi Baru

Ironisnya, meski terasa sangat mature, “Power” justru lebih mudah diterima oleh generasi Z yang haus akan authenticity. Mereka lelah dengan idol yang terlalu sempurna. Mereka mau lihat kerentanan. Dan G-Dragon memberikannya dengan segala megah.

Kesimpulan

“Power” adalah bukti bahwa hiatus panjang bisa menjadi berkah. G-Dragon tidak hanya kembali dengan musik baru—dia kembali dengan perspektif baru. Lagu ini mungkin tidak akan menjadi earworm yang kamu nyanyikan di kamar mandi, tapi akan jadi soundtrack untuk setiap kali kamu merasa diragukan dan perlu ingat siapa dirimu sebenarnya.

Kualitas produksi yang impeccable tanpa terdengar kaku, lirik yang berlapis-lapis tanpa terasa pretensius, dan visual yang sederhana tapi tak terlupakan—semuanya menyatu dalam satu paket yang menegaskan satu hal: the king never left. He was just recharging.

Untuk yang sudah menunggu tujuh tahun, “Power” adalah hadiah yang layak. Untuk yang baru mengenal G-Dragon, ini adalah pintu masuk yang sempurna untuk melihat sisi paling manusiawi dari seorang legenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Kenapa Saya Berhenti Mendengar Lagu Pop Mainstream: Sebuah Opini & Review Alternatif

Beberapa tahun lalu, saya bisa menghabiskan tiga jam duduk di kafe, menelan…

Analisis Tren “Speed Up” Songs di TikTok: Apakah Merusak Apresiasi Karya Asli?

Baru-baru ini kamu dengerin lagu favoritmu di Spotify dan tiba-tiba terasa… aneh.…

Analisis Algoritma Spotify: Bagaimana Lagu Indie Bisa Tiba-tiba Masuk Playlist “Lagi Viral”?

Ada momen magis yang sering dialami penikmat musik indie: kamu sedang asyik…

Review Lagu “Gala Bunga Matahari”: Interpretasi Kematian Yang Indah Atau Menyeramkan?

Masihkah ada cara lebih indah untuk berpamitan selain jadi bunga matahari yang…