Dua tahun sudah berlalu sejak Tulus lepas album Manusia. Banyak yang bilang ini adalah karya terbaiknya, tapi sebagian juga ragu, apakah masterpiece bisa bertahan melawan waktu? Saya sendiri masih sering kembali ke album ini, dan setiap kali menemukan sesuatu yang baru.
Entah itu lirik yang tiba-tiba terasa lebih personal, atau aransemen yang terdengar lebih berani dari yang pertama kali didengar. Jadi ya, ini bukan sekadar review, tapi lebih seperti curhat setelah dua tahun menemani perjalanan Manusia.
Mengapa “Manusia” Membuat Kita Berhenti Sejenak
Manusia datang setelah empat tahun vakum sejak Monokrom. Bukan waktu yang sebentar. Dalam dunia musik Indonesia yang bergerak cepat, empat tahun bisa membuat seorang artis dilupakan.
Tapi Tulus justru kembali dengan koleksi lagu yang lebih berani secara konseptual. Dia tidak sekadar menulis lagu cinta. Dia menulis tentang ketakutan, kegugupan, kerapuhan, dan harapan menjadi manusia.
Album ini berhasil membuat kita berhenti sejenak. Berhenti dari kebisingan. Berhenti dari rutinitas. Dan bertanya, “Apa sih yang sebenarnya aku cari dalam hidup ini?”
Dua Tahun Bersama “Manusia”: Apa yang Berubah?
Pada 2022, kita baru keluar dari pandemi. Album ini jadi semacam terapi kolektif. Tapi sekarang, di 2024, Manusia terasa lebih seperti soundtrack untuk fase kehidupan yang lebih spesifik.
Lagu-lagu yang dulu terasa relate secara umum, kini jadi lebih personal. Mungkin karena kita sendiri yang berubah. Atau karena Tulus sudah memprediksi perasaan yang akan datang.

Data Streaming yang Masih Kencang
Kalau kita lihat angka, album ini nggak main-main. Hingga pertengahan 2024, Manusia sudah mengumpulkan lebih dari 500 juta streaming di platform digital.
Lagu Hati-Hati di Jalan saja mendekati 200 juta streaming. Itu bukan angka kecil untuk lagu yang secara musikal cenderung mellow dan liriknya sangat sederhana.
Lirik yang Menjadi Cermin
Tulus memang dikenal sebagai penulis lirik yang jeli. Tapi di Manusia, dia naik level. Liriknya jadi lebih vulnerable, lebih terbuka soal ketidakpastian.
Di lagu Merdu, dia menulis: “Aku hanyalah sebuah suara, mencari tempat berlabuh.” Baris sederhana tapi menusuk. Kita semua pernah merasa jadi suara yang tersesat.
Atau di Biru, dia menggambarkan keinginan untuk berhenti sejenak: “Biarkan aku diam sebentar, menikmati biru langit ini.” Di era yang mengharuskan kita selalu produktif, lirik itu jadi semacam protes lembut.
Aransemen dan Suara yang Berani
Yang bikin Manusia beda adalah keberanian eksperimentalnya. Tulus nggak takut main dengan soundscape yang lebih luas.
Lagu Pagi di Bali punya sentuhan etnik Bali yang kental tapi nggak terasa dipaksakan. Suara gamelan dan sulingnya menyatu dengan piano dan suara Tulus yang lembut.
Di Labirin, dia bermain dengan efek suara dan ketukan yang lebih kompleks. Ini lagu yang paling “gelap” di album ini, tapi justru jadi favorit banyak orang karena menantang.
Album ini membuktikan bahwa pop nggak harus dangkal. Kamu tetap bisa bikin lagu yang mudah didengar tapi punya lapisan-lapisan yang dalam.
Track by Track: Momen-Momen Emas
Mari kita bedah beberapa lagu penting yang bikin album ini bertahan:
- Hati-Hati di Jalan: Lagu pembuka yang sempurna. Sederhana, tapi setiap kali dengar, rasanya seperti ditegur dengan lembut oleh teman lama.
- Pagi di Bali: Bukan sekadar lagu liburan. Ini lagu tentang menemukan kedamaian di tengah kekacauan.
- Merdu: Momen paling vulnerable Tulus. Piano dan suaranya saja, tapi cukup untuk bikin merinding.
- Labirin: Eksperimen paling berani. Suara backing vocal yang terasa misterius, lirik yang abstrak.
- Biru: Lagu yang paling sering jadi soundtrack untuk momen berhenti sejenak. Minimalis tapi penuh makna.
Perbandingan Mood Antar Track
| Track | Dominan Mood | Instrumen Utama | Recommended Time |
|---|---|---|---|
| Hati-Hati di Jalan | Reflective, Warm | Piano, Strings | Pagi hari |
| Pagi di Bali | Peaceful, Ethnic | Gamelan, Suling | Siang terik |
| Labirin | Dark, Mysterious | Synth, Percussion | Malam hujan |
| Biru | Calm, Minimalist | Guitar, Piano | Senja |
Masterpiece atau Bukan?
Pertanyaan besar ini sebenarnya bergantung pada definisi masterpiece-mu. Kalau masterpiece itu harus mengubah industri, mungkin Manusia nggak se-revolusioner itu.
Tapi kalau masterpiece itu adalah karya yang tetap relevan dan punya daya tahan, yang bisa kamu dengar lagi lima atau sepuluh tahun dari sekarang tanpa merasa usang, maka jawabannya iya.
Ini album yang tumbuh bersama pendengarnya. Makna-makna yang dulu terasa umum, kini jadi spesifik seiring kita menua dan menghadapi lebih banyak kehidupan.
Apa yang Bisa Lebih Baik?
Tentu saja nggak ada karya yang sempurna. Beberapa track di belakang kayak Interaksi atau Ruang terasa sedikit filler. Nggak buruk, tapi juga nggak sekuat track-track utama.
Mungkin album ini akan lebih kuat jika dipangkas menjadi 9 atau 10 lagu saja. Tapi mungkin itu juga bagian dari konsepnya: manusia itu kompleks, penuh dengan momen-momen yang nggak semuanya dramatis.
Kesimpulan: Kita yang Berubah, Bukan Albumnya
Setelah dua tahun, Manusia bukan lagi sekadar album yang bagus. Dia jadi semacam teman perjalanan. Kadang kamu lupa dia ada, tapi ketika kembali, dia selalu punya sesuatu yang baru untuk disampaikan.
Masterpiece itu nggak selalu harus sempurna secara teknis. Kadang masterpiece itu adalah karya yang berani jadi dirinya sendiri, dan tetap bertahan saat tren sudah berganti.
Jadi kalau kamu belum dengar lagi dalam beberapa bulan, coba putar sekarang. Mungkin kamu akan temukan sesuatu yang dulu terlewatkan. Dan mungkin kamu akan setuju: Manusia memang masterpiece, bukan karena dia sempurna, tapi karena dia mengingatkan kita pada keberanian untuk jadi manusia.



