Semua orang butuh lagu galau, tapi kadang kita juga muak dengan lirik yang terasa dipaksakan. Bernadya datang dengan album barunya, Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan, yang katanya lebih dalam dan lebih real. Tapi apakah benar relate, atau malah jatuh ke jurang klise yang sama?
Sejak pertama kali dengar single utamanya, ada rasa familiar yang mengganjal. Bukan familiar dalam artian buruk, tapi lebih seperti, “Ah, aku juga pernah begitu.” Tapi pertanyaannya, apakah rasa itu bertahan sampai lagu terakhir?
Pertama Kali Dengar: Kesan yang Muncul
Album ini dibuka dengan Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan, lagu yang langsung menusuk dengan lirik pembuka: “Semua yang kucinta pergi, sialnya hidup harus tetap berjalan.” Tidak ada basa-basi, langsung ke inti. Aransemen pianonya minimalis, hanya sebatang nada yang berulang seperti detak jam yang tidak peduli dengan perasaanmu.
Suara Bernadya tidak coba terdengar sempurna. Ada rawness di sana yang justru jadi daya tarik. Tapi di beberapa momen, terasa dia terlalu menahan emosi—atau mungkin itu memang sengaja?

Lirik yang Terlalu Jujur, atau Tidak Cukup?
Ini bukan album yang penuh metafora rumit. Justru sebaliknya, liriknya terlalu lurus. Kadang sampai membuatmu merasa tidak nyaman karena terlalu dekat. Di Moga Bulan Sutji, dia bernyanyi tentang merindukan seseorang yang sudah tiada, tapi tetap berharap ada pertemuan di alam lain.
Kekuatan sekaligus kelemahannya ada di sini. Ketika kamu sedang galau, lirik ini terasa seperti pelukan. Tapi kalau kamu dalam mood baik, mungkin kamu akan bilang, “Ah, terlalu dramatis.”
Ada momen di Tak Ada Salju di Sini di mana dia menggambarkan kesendirian dengan detail yang sangat spesifik: “Kopi pagiku dingin, seperti kamu yang tidak pernah kembali.” Detail spesifik ini yang membuat lagu relate. Tapi di lagu lain, detailnya terasa generik dan bisa dipakai untuk siapa saja.
Tema-tema Berulang yang Terasa Menyesakkan
Sepanjang 10 lagu, tema utamanya tetap: kehilangan, penyesalan, dan moving on yang terpaksa. Tapi ada repetisi yang mengganggu. Di beberapa track, kau merasa dia mengulang pesan yang sama hanya dengan kata-kata berbeda.
- Kehilangan: Hadir di hampir semua lagu, tapi paling kuat di “Sialnya…” dan “Moga Bulan Sutji”
- Kesendirian: Tema yang diolah di “Tak Ada Salju di Sini” dan “Kamar Kosong”
- Harapan palsu: Muncul di “Bintang Palsu” dan “Janji yang Terlupakan”
Ketika kamu dengar full album dalam satu duduk, bisa jadi kamu merasa drained. Bukan karena emosinya kuat, tapi karena intensitas yang tidak naik-turun. Flat.
Aransemen Musik: Sederhana tapi Tepuk di Bahu
Kalau liriknya berat, musiknya sengaja dibuat ringan. Piano adalah instrumen utama, kadang diselingi gitar akustik. Tidak ada orkestrasi besar, tidak ada drop EDM. Ini membuat suara Bernadya benar-benar jadi fokus.
Tapi di beberapa lagu, aransemen terasa terlalu aman. Di Kamar Kosong, misalnya, chord progression-nya bisa ditebak dari awal. Tidak ada kejutan. Mungkin ini memang konsepnya: hidup yang membosankan tanpa orang yang kita cinta. Tapi sebagai pendengar, kamu butuh sedikit variasi.
Pengecualian ada di Bintang Palsu yang menambahkan synth tipis di background. Ini memberi nuansa kosmik, seolah-olah kita melihat bintang-bintang yang tidak nyata. Detail kecil seperti ini yang seharusnya lebih banyak muncul.
Track by Track: Momen-momen Puncak dan Jurang
Mari kita jujur, tidak semua lagu di album ini sekuat single utamanya. Ada momen-momen yang membuatmu ingin menekan skip, tapi ada juga yang membuatmu mengulang berkali-kali.
Track terkuat: Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan dan Moga Bulan Sutji. Keduanya punya dinamika emosional yang lebih kompleks. Liriknya spesifik, tapi universal. Kamu bisa merasakan kesedihannya, tapi juga ada rasa harap.
Track terlemah: Janji yang Terlupakan dan Kamar Kosong. Keduanya terasa seperti filler. Liriknya tidak menawarkan perspektif baru, dan musiknya terlalu monoton. Kalau dihapus, album ini tidak akan kehilangan esensinya.
“Semua yang kucinta pergi, sialnya hidup harus tetap berjalan.” – Ini adalah lirik yang akan jadi caption Instagram banyak orang, tapi juga lirik yang akan membuat mereka menangis di tengah malam.
Di tengah album, ada Pulang, lagu yang menawarkan sedikit cahaya. Liriknya masih tentang kehilangan, tapi ada nada lebih tenang. Seperti menerima kenyataan. Ini penting untuk memberi ruang napas.
Apakah Ini Album untukmu?
Kalau kamu baru putus atau baru kehilangan seseorang, album ini akan jadi teman sejati. Tapi kalau kamu sedang mencari album yang memberi perspektif baru tentang duka, mungkin kamu akan kecewa.
Album ini tidak mencoba mengobati. Tidak ada lagu yang bilang “semua akan baik-baik saja.” Justru semua lagu mengakui bahya tidak sembuh-sembuh. Ini yang membuatnya relate—atau berlebihan, tergantung sudut pandangmu.
Untuk fans indie pop Indonesia, ini adalah rilis yang wajib didengar. Tapi jangan harap ada inovasi besar. Ini adalah album yang konsisten dengan suara Bernadya sebelumnya, hanya lebih gelap.
Kesimpulan: Relate dengan Batas
Bernadya berhasil membuat album yang jujur. Terlalu jujur, sampai kadang tidak nyaman. Tapi di dunia musik yang penuh dengan lirik generik, kejujuran ini adalah kekuatan.
Masalahnya adalah konsistensi. Ketika semua lagu berada di level emosi yang sama, kamu kehilangan dinamika. Kamu tidak merasa ada perjalanan, hanya stagnasi.
Album ini akan relate untuk banyak orang, tapi hanya di momen-momen tertentu. Kamu tidak akan muterin ini setiap hari. Tapi di malam-malam sunyi, ketika galau datang, Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan adalah tempat yang tepat untuk bersembunyi.
Relate? Ya, tapi dengan catatan: kamu harus siap untuk merasa lebih berat. Berlebihan? Kadang, tapi mungkin itu yang kita butuhkan untuk mengakui bahwa duka tidak selalu indah.





